The World in One Roof for One Purpose

6 minggu yang tidak hanya mengajarkanku bagaimana memimpin sebuah proyek yang baik, tapi juga memberi pelajaran hidup mengenai perbedaan, toleransi, dan pengertian kultural antar negara. Aku bersyukur, kedua belas exchange participantsku pulang dengan lifetime experience mereka dan Indonesia sebagai rumah kedua di hati. Here is the story.

***

Umat Yahudi dan Muslim Inggris kompak bikin resto buat warga miskin

Judul tersebut membuat jemariku berhenti scrolling untuk sesaat. Kalian ngerasa nggak sih? Dari semua berita akhir-akhir ini, kebanyakan adalah berita negatif yang memberitakan ulah pihak tidak bertanggung jawab di negeri kita, atau bagaimana konflik dan perpecahan terjadi diakibatkan oleh adanya perbedaan. Tapi ternyata, masih ada juga kisah yang memberi sedikit harapan bahwa sesungguhnya, kerukunan di antara perbedaan itu mungkin. Yah, walaupun kisahnya bukan di Indonesia..

Andai saja negeri kita bisa seperti itu ya? Mengesampingkan perbedaan yang ada untuk melakukan hal baik. Untuk sesaat aku memejamkan mata, teringat akan pengalaman serupa yang pernah aku alami dulu. Bagaimana satu tujuan baik bisa tercapai saat kita belajar menghargai perbedaan yang ada.

***

Aku dapat merasakan degup jantungku sendiri. Perasaan excited, deg-degan, dan nervous bercampur menjadi satu. Hari itu tiba saatnya aku bersama ketujuh anggota timku menemui kedua belas exchange perticipants dari berbagai belahan dunia yang telah berkumpul di dalam satu rumah sewa di daerah Beji.

Ya, saat itu aku dipercayakan untuk memimpin sebuah proyek bernama Little Star. Proyek tersebut merupakan salah satu proyek tahunan dibawah naungan organisasi AIESEC yang rutin diadakan setiap tahunnya. Dengan landasan utama SDG nomor 4 tentang pendidikan, nantinya selama 6 minggu mereka akan mengajar di underpriveleged schools di Depok, berusaha meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia. Menebar dampak baik untuk tanah air, sembari mendapatkan pengalaman cross cultural  untuk pribadi yang lebih baik dan terciptanya perdamaian dunia karena terciptanya pengertian antar budaya.

Selama kurang lebih empat bulan kebelakang, aku yang menjabat sebagai ketua bersama tujuh anggota timku telah mempersiapkan seluruhnya. Dimulai dari mencari basecamp tempat kami tinggal, sekolah yang akan mereka ajar, tempat-tempat wisata dan kegiatan yang akan dilakukan selama mereka disini, sampai menyeleksi orang-orang yang mendaftar untuk proyek ini melalui online interview. Saat itu aku tidak muluk-muluk, tidak mencari bule yang super pintar atau good-looking. Syarat mutlakku saat itu tidaklah sulit, yang penting dia harus antusias dan suka anak-anak.

Apakah proses persiapannya berjalan lancar? Tentu saja tidak. Delapan kepala disatukan, dengan isi dan latar belakang yang berbeda, mustahil kalau tidak ada selisih paham di dalamnya. Sebut saja aku, orang Batak yang senantiasa ditempeli dengan stereotipe “galak” dan “keras”. Hal tersebut diutarakan salah satu anggotaku bernama Ninis (yang notabene adalah orang Jawa) saat kami sedang menjalani rapat kedua untuk membahas mengenai akomodasi para exchange participants.

“Oke. Jadi fix ya, sekolahnya di daerah Beji semua. Nah, sekarang soal basecampnya. Ninis, gimana? Udah survey atau telepon?” tanyaku kepada Ninis yang memang bertanggung jawab atas akomodasi.

“Eh, belum. Sorry, gue belum sempet.” Ninis menjawab, sambil kembali mengarahkan pandangannya ke depan laptop.

“Loh, kan kemarin kita udah sepakat kalau deadlinenya hari ini. Memangnya lo kemarin ngapain aja? Ini proyek udah tinggal dua minggu lagi loh,” ujarku, tanpa sengaja dengan nada yang terlalu keras untuk orang kebanyakan.

“Ya sorry. Kok lo jadi ngegas sih? Nggak suka gue. Kemarin gue ada urusan jadi belum sempat. Santai aja kali nggak usah gitu-gitu amat. Gue juga tahu udah tinggal dua minggu,” Ninis menjawab dengan nada tinggi, atau bahasa gaulnya, ngegas. Raut mukanya berubah kesal.

“Udah. Lo yang juga santai aja kali, Nis. Itu Ruth juga biasa aja kok, kan dia cuma nanya lo ngapain. Lagian bener, proyek udah tinggal sebentar lagi.” Anggota timku yang lain menengahi. Fia memang merupakan orang yang tenang sehingga cocok untuk menjadi mediator.

“Iya, sorry ya kalau menurut lo gue ngegas. Tapi bener kok, gue biasa aja. Nggak marah juga sebenernya, karena gue tau lo pasti punya alasan.”

Ya, hal semacam itulah yang kerap mewarnai proses persiapan proyek kami untuk beberapa waktu pertama. Lama-kelamaan, kami makin bisa memahami satu sama lain. Aku mulai menyesuaikan nada bicaraku dan belajar memahami Ninis yang cenderung sensitif, dan Ninis yang nggak lagi ngegas atau tersinggung saat aku berbicara seperti itu. Nggak hanya Ninis, aku juga belajar memahami anggota timku yang lain. Sasa dan Monit yang merupakan umat muslim taat sehingga aku tidak bisa mengganggu waktunya di hari Jumat untuk mentoring keagamaan, aku, Ninis, dan Calvin yang selalu ke gereja pada hari Minggu, Cintya yang cenderung blak-blakan dalam berbicara, atau Nana yang lebih tertutup sehingga harus dirangkul terlebih dahulu.

Tidak peduli apa suku, agama, ras, dan sifat kami, berkerudung atau tidak, yang terpenting adalah kami bersama-sama memiliki satu tujuan: menyediakan unforgettable lifetime experience bagi para exchange participants dimana mereka bisa berkembang dan pulang dengan  Indonesia sebagai rumah kedua di hati.

ruthh

Little Star Comittee, minus Calvin yang ada di balik kamera.

***

Aku memasuki rumah berwarna ungu tersebut, mendapati dua belas orang dengan warna rambut dan fitur wajah yang berbeda-beda duduk di karpet, tampak asyik bercengkerama satu dan yang lainnya.

“Hello!” Salah satu perempuan dengan rambut kuning terang menyapa kami.

Aku mengambil tempat di salah satu sudut karpet bersama dengan anggota timku. Kami memulai hari itu dengan berkenalan satu dengan yang lainnya. Ada Ellen, Aoife, Alice dan Nuala yang ketiganya berasal dari Irlandia. Lalu ada juga Caren, Constance,Sunny, dan Billy yang berasal dari Cina.  Marianne merupakan satu-satunya peserta yang berasal dari Prancis. Selanjutnya, dua orang perempuan memperkenalkan dirinya sebagai Tram dan Han dari Vietnam. Perkenalan diakhiri dengan seorang laki-laki dari Pakistan yang bernama Kumail.

Literally the whole world in one roof, batinku saat itu.

Sejak hari itu, petualangan dan cerita kami dimulai. Kami memulai minggu pertama dengan IPS (Incoming Preparation Seminar) untuk mempersiapkan mereka selama hampir dua bulan di Indonesia.

Setelah itu, kami semua mengunjungi salah satu tempat legendaris di Jakarta, yaitu Kota Tua. Disana kami bermain semacam rally games mengunjungi museum satu persatu dan memecahkan teka-teki. Hal yang menarik adalah, saat ketiga peserta kami yang berasal dari Irlandia mendadak menjadi artis. Setiap sepuluh langkah kaki mereka terhenti oleh permintaan orang-orang yang ingin berkenalan dan mengajak berfoto. Hal ini spontan menambah daftar culture shock mereka di Indonesia. Padahal, mereka juga hanya manusia biasa seperti kita, hanya dibedakan oleh postur tubuh dan warna rambut yang mencolok. Stigma masyarakat Indonesia yang terlalu mengagungkan orang dari luar negeri itulah yang harusnya dihapuskan.

Tidak hanya berkenalan dan mengajak, masih terekam di kepalaku bagaimana mereka juga harus mengalami cat-calling saat sedang berjalan.

“Bule, cuit cuit”

“Eh ada bule. Sini dong miss, come here”

Cat calling dalam bentuk apapun bagiku bukanlah sesuatu yang pantas, tidak peduli pakaian apa yang sedang dipakai, atau wanita seperti apa yang lewat. Namun untuk berjaga-jaga, aku kerap kali mengingatkan mereka tentang Indonesia dan budaya berpakaiannya yang berbeda dengan negara Barat. Mereka pun maklum dan lebih banyak memakai celana panjang, walaupun seringkali mereka mengeluh akan cuaca Depok yang sangat panas.

Hari Senin sampai Jumat dilalui dengan mengajar di sekolah-sekolah. Nyatanya, perlakuan spesial juga mereka dapatkan saat mengajar di sekolah. Anak-anak yang kelewat heboh mengetahui kalau mereka diajar oleh guru bule menggoreskan kesan tersendiri bagi para exchange participants. Tidak hanya itu, guru di sekolah tersebut juga sangat mengandalkan para bule tersebut.

IMG_3946

Salah satu peserta, Aoife yang sedang mengajar di depan kelas

IMG_3335

Suasana belajar di salah satu sekolah Depok dan Kumail di ujung sana

Akhir minggu biasanya kami habiskan berjalan-jalan mengeksplor Jakarta, mulai dari Monas, TMII, Museum Gajah, dan sederet wisata wajib lainnya. Mereka tampak antusias mengetahui kultur-kultur Indonesia dan hal-hal menarik atau tidak terduga yang terjadi. Senang rasanya bisa ikut serta dalam mempromosikan Indonesia kepada orang luar negeri, untuk kemudian mereka bawa pulang dan ceritakan kepada sanak saudara dan teman-teman mereka.ruthhh

Little Star di salah satu gapura TMII

Jika sedang tidak jalan-jalan, ada kalanya juga kami hanya bersantai di rumah, kelelahan akibat mengajar di tengah minggu. Tentunya, enam minggu berada di bawah satu atap bukanlah hal yang mudah. Adanya perbedaan latar belakang, suku, agama, bahkan kewarganegaraan pastinya membuat kami memiliki cara hidup yang berbeda-beda. Mulai dari sebuah kebiasaan kecil seperti preferensi kamar mandi sampai hal sensitif menyangkut agama, jika tidak dipahami oleh yang lainnya, dapat memercik adanya konflik atau kesalahpamahan. Ya, ada kalanya kami gagal memahami satu sama lain.

Satu waktu, Nuala yang terbiasa akan kamar mandi kering di negara asalnya mengeluh akan beberapa dari kami yang terbiasa meninggalkan kamar mandi dalam keadaan basah. Untungnya, kami segera membicarakannya dan sepakat untuk belajar memakai kamar mandi dalam keadaan kering.

Dilain waktu, Sunny yang berasal dari Cina membawa makanan ke dalam rumah. Lantas, yang lainnya langsung datang menghampiri untuk ikut mencicipi makanan tersebut.

“What is this? It’s so good,” ujar Ellen sambil melahap potongan daging di tangannya.

“Yes, it’s chinese pork.” Sunny menjawab.

“WHAT IT’S PORK?” Seruan Kumail membuat aku dan Calvin menoleh ke arah mereka. Kebetulan, anggota timku yang lain sedang ke Indomaret dan kami berdua sedang mengobrol sehingga tidak menyadari apa yang terjadi.

“Yes, why? Oh, you can’t eat pork? I’m Sorry, but why? It’s so good. ” Sunny menjawab dengan nada yang menurutku, tidak menunjukkan rasa bersalah.

Spontan Kumail memuntahkan daging babi tersebut dari mulutnya. Kerut di wajahnya menunjukkan amarah.

“Why didn’t you tell me? You know i’m a moslem, therefore i can’t eat pork. Don’t you respect me at all?”

Sempat terjadi perdebatan saat itu. Kumail yang merasa Sunny tidak menghargainya dan Sunny yang cenderung merasa Kumail ‘lebay’ dengan aturannya tidak boleh makan daging babi. Untungnya, suasana panas tidak berlangsung lama. Kami berusaha memberi pengertian kepada Sunny mengenai aturan mutlak orang muslim untuk tidak memakan babi dan bagaimana Sunny harus menghargai serta membantunya, begitu juga kepada Kumail agar tidak tersinggung dengan ketidaktahuan Sunny akan hal ini.

Pada akhirnya, kami belajar menghormati dan menghargai perbedaan diantara kami, tidak membiarkan itu menganggu kedamaian dan kekeluargaan kami selama enam minggu. Toleransi menjadi kebiasaan baik yang selalu kami berusaha lakukan.

Kami yang beragama nasrani, maupun beberapa dari kami yang tidak beragama, belajar menghormati kebiasaan shalat lima waktu beberapa dari kami yang merupakan umat muslim, bahkan ketika sedang berpergian dan harus mencari musholla serta menunggu.

Kami yang beragama muslim, maupun beberapa dari kami yang tidak beragama, belajar menghargai waktu di hari Minggu yang digunakan beberapa dari kami untuk beribadah di gereja.

Kami yang beragama, tidak sama sekali terganggu dengan beberapa dari kami yang memilih untuk tidak memeluk agama manapun. Malahan, seringkali kami melakukan diskusi terbuka tentang agama. Bukan untuk ajang pamer agama masing-masing atau memperdebatkan mana agama yang benar, namun hanya untuk sekadar sharing dan lebih mengerti mengenai agama setiap dari kami. Menyadari bahwa setiap agama itu indah, dan pada hakikatnya mengajarkan kebaikan.

Tidak hanya itu, kami juga sering melakukan sharing mengenai budaya masing-masing, berbagi cerita mengenai apa yang menjadi tradisi dari setiap negara. Kami belajar bagaimana orang Irlandia memperingati St. Patrick’s Day, bagaimana orang Pakistan beribadah, atau bagaimana orang Vietnam gemar menyantap paper rolls – yang ketika kami coba, memang terasa seperti kertas. Memperkaya pengetahuan sembari mempererat tali persahabatan dengan orang dari luar negeri aku rasa akan menjadi salah satu investasi hidup.

Kalau kami tidak belajar bertoleransi, enam minggu pastilah akan terasa seperti neraka.  Tetap kekeuh dengan budaya dan cara masing-masing dan tidak mau belajar untuk memaknai perbedaan yang ada. Ugh, nggak kebayang akan jadi seperti apa.

IMG_1519

Senyum menghiasi masing-masing exchange participants

Untungnya, kami bisa melewati semua proses yang ada dan menikmati hari demi hari. Sampai pada akhirnya, enam minggu telah berlalu. Kami mengakhiri masa mengajar dengan mengadakan sebuah Mini Talent Show bernama Little Star’s Got Talent di mall Depok sebagai salah satu tolak ukur akan kemampuan mereka. Ada yang menyanyi dan lagu bahasa inggris, serta menampilkan sebuah drama mini.

IMG_0181IMG_0234

A glimpse of the talent show

 

Ada perasaan senang menyelimuti ketika mengetahui kemampuan bahasa Inggris mereka telah meningkat, bahkan telah berani tampil di depan umum. Kepolosan dan mata berbinar-binar mereka di atas panggung membuatku menyadari – kids are indeed precious. 

Setelah pentas selesai, kami mengadakan perpisahan dengan setiap sekolah, dibanjiri air mata anak-anak yang sudah mulai terbiasa akan kehadiran guru bulenya. Proyek Little Star ditutup dengan liburan ke pulau Dewata selama tiga hari. Menikmati deburan ombak dan siraman sinar matahari tiada henti, menghirup udara segar di rice field Ubud, sampai akhirnya…. mengucapkan salam perpisahan di bandara. Lagi-lagi, perpisahan dibanjiri dengan air mata setiap kami.

Aku merasa sedih karena mereka akan kembali ke negara masing-masing dan entah kapan bertemu, senang karena akhirnya proyek ini selesai dan aku bisa bernafas untuk sejenak, dan juga bangga mengingat tercapainya tujuan proyek Little Star. Bukan semata-mata karena aku sendiri, namun karena setiap pribadi kami tanpa terkecuali, yang mau belajar mengenal satu sama lain, mengesampingkan namun tetap menghargai setiap perbedaan yang ada, dan bergandengan tangan untuk mencapai satu tujuan: meninggalkan dampak bagi Depok. Terlebih lagi, melihat mereka yang telah berkembang selama di Indonesia menjadi pribadi yang lebih baik mendatangkan kehangatan di lubuk hatiku.

IMG_0443

Our Happy Faces at The Beach

Don’t cry because it’s over, smile because it happened.

 

Salah satu quote cliche yang aku pegang tiap kali mengingat proyek ini. Mungkin saat ini mereka sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, tersebar di berbagai belahan bumi. Namun aku yakin, Little Star selalu tersimpan manis di pojok memori dan hati, menjadi salah satu chapter dalam hidup yang nggak akan terlupakan.